Bagaimana Melatih Karyawan Anda menjadi Lebih Baik


Tidak peduli apakah peran yang Anda miliki dalam menjalani kehidupan profesional, apakah sebagai seorang entrepreneur, eksekutif atau marketing lapangan, pastinya Anda akan mempunyai reaksi, perasaan dan pemikiran bagaimana meraih sukses, yakni mencapai hasil akhir terbaik.  Hal ini bukanlah perilaku yang aneh jika Anda menginginkan sebuah pencapaian tinggi, namun perlu kiranya Anda dalam menunjukkan keinginan berprestasi besar Anda dapat melihat kondisi dan situasi lingkungan, tiada lain dengan tujuan agar perilaku dan sikap Anda dapat diterima sebagai bagian dari sebuah upaya untuk membangun performa tim yang lebih baik, tanpa adanya tekanan berlebihan.

1.  Edukasi Pemimpin Anda

Mulailah dari pemimpin tertinggi dalam perusahaan Anda dengan mengajarkan pentingnya coaching dan counseling.  Mintalah masukan dari sudut pandang mereka dan keinginan mereka untuk turut berperan dalam initiatif pelatihan.  Jelaskan manfaat dari aplikasi program pelatihan ini terhadap organisasi.

2.  Identifikasi Pelatih, Partisipan atau Sponsor

Carilah individu yang cocok untuk mengikuti program pelatihan sebagai pelatih. Mereka mungkin Anda dapatkan dari talent management atau mungkin orang-orang bisnis itu sendiri.  Mintalah mereka mendukung program ini dan membantu mengidentifikasi peserta lain yang dapat terlibat sebagai partisipan ataupun sponsor

3.  Kelola Ekspektasi

Pastikan tujuan yang jelas dari program pelatihan Anda, baik kepada calon pelatih internal, para sponsor dan tentunya manajer dan kolega Anda.  Setiap individu perlu tahu peran serta dan tujuan diselenggarakannya program tersebut.

4.  Lakukan Pelatihan

Ketika mendaftarkan orang-orang dalam program pelatihan, tidak lain hal ini bertujuan melatih mereka sebagai pelatih bagi internal perusahaan Anda. Pastikan mereka akan dilatih oleh yang berpengalaman dan program pelatihan yang tepat untuk menjadikannya sebagai pelatih bagi karyawan Anda.  Mereka harus memahami peran dan tanggunggjawabnya menjadi peserta pelatihan.

5.  Ukuran Keberhasilan

Saat Anda akan memulai program pelatihan maka tetapkan standar ukuran keberhasilannya.  Tidak perlu membuat ukuran yang komplek seperti ROI, namun cukup standar sederhana yang mudah dimengerti dan dipahami banyak pihak.  Mewawancarai mereka atau melakukan survei tentang manfaat yang mereka terima juga sebuah ide yang sangat baik. Selain itu, pastikan untuk meminta manajer peserta program tentang perubahan yang terjadi terhadap perilaku karyawan mereka setelah dilatih.

sumber

Iklan

JIKA ATASAN ANDA BUKAN ORANG PINTAR


Oleh: Sam Deep & Lyle Sussman

Berikut adalah beberapa hal yang bisa Anda lakukan jika atasan Anda ternyata bukanlah orang pandai..

  1. Jangan mengharapkan lebih daripada yang dapat dilakukannya. Jika Anda tidak mempunyai harapan terhadap atasan, Anda tidak akan kecewa. Kekecewaan terjadi karena kita biasanya meletakkan harapan kepada seseorang atau sesuatu.
  2. Pandanglah perilaku yang tidak Anda sukai sebagai masalah atasan, bukan masalah Anda. Jika Anda memasukkannya ke dalam hati, lama kelamaan hal ini akan membuat hari – hari kerja Anda semakin lama semakin tidak nyaman.
  3. Jangan menjadi jengkel terhadap sesuatu yang sebenarnya bersumber pada ketidak mampuan atasan. Pengalaman kami menunjukkan bahwa kejengkelan tidak ada gunanya. Sebab utama dari keputusan yang keliru seringkali adalah ketiadaan informasi atau karena kebodohan.
  4. Perbanyaklah berhubungan dengan bawahan dan kurangi hubungan dengan atasan.
  5. Tunjukkan pada atasan apa yang seharusnya dilakukannya untuk membuat hubungan Anda berdua lebih produktif dan organisasi lebih sukses. Ini harus dilakukan dengan hati-hati. Salah satu caranya adalah dengan mengajak atasan mengikuti sesi umpan balik, seperti berikut. Ambillah selembar kertas kosong yang hanya berisikan tiga judul: “Lakukan lebih banyak…. ..Lakukan lebih sedikit…… Pertahankan…….” Di bawah masing-masing judul ini tulislah perilaku Anda yang Anda yakin akan ditempatkan dalam kategori yang sama oleh atasan. Mintalah atasan Anda melakukan hal yang sama dengan Anda dengan menuliskan perilaku yang ia yakin Anda akan menempatkannya dalam kategori yang sama baginya. Sekarang, Anda mempunyai dasar untuk diskusi yang selalu Anda harapkan antara Anda dan atasan Anda. Masing-masing dari Anda akan melihat perilaku tadi dan katakanlah mana yang Anda setujui, tidak setujui, dan yang ingin Anda tambahkan. Aturan dasar dari sesi ini adalah bahwa masing-masing dari Anda harus memilih sendiri tiga perilaku dari daftar akhir yang akan anda ubah demi memperbaiki hubungan Anda berdua dengan bantuan dari pihak lainnya.
  6. Jagalah peluang Anda diluar kalau-kalau Anda memutuskan untuk mengundurkan diri.
  7. Bertahanlah dan nantikanlah pengganti atasan yang lebih baik
  8. Prestasi baik Anda mungkin akhirnya membuat anda dipromosikan ke posisi yang sekarang diduduki atasan Anda. So.. be happy
  9. Bila semua gagal, sempurnakanlah resume atasan dan kirimkan itu ke perusahaan pencari tenaga kerja

Sumber: Manajer Bijak, Sam Deep & Lyle Susman, PT Pustaka Binaman Pressindo, 1995

KARAKTER PEMIMPIN TERBAIK


Inilah beberapa karakteristik pemimpin yang handal yang dapat Anda jadikan referensi:

  1. Mempunyai komitmen penuh membangun team untuk mencapai tujuan bersama. Pemimpin yang handal menyadari bahwa mereka adalah anggota team dan jika mencapai keberhasilan berarti keberhasilan team. Ini berarti pemimpin harus menyadari bahwa walaupun teamnya mempunyai banyak perbedaan, tetapi mereka harus bersatu untuk mencapai tujuan team.
  2. Menjalankan apa yang dikatakan. Pemimpin yang handal selalu menjalankan apa yang mereka katakan dan memberi contoh bagaimana menjalankannya. Dengan cara seperti ini pemimpin akan disegani dan dihormati oleh anggota teamnya. Bukan karena posisi mereka, tetapi karena tindakan yang mereka lakukan. Tidak lucu misalnya jika seorang pemimpin mewajibkan anak buahnya untuk tidak terlambat datang ke kantor tetapi hampir setiap hari ia terlambat datang ke kantor dengan berbagai alasan. Bagaimana mungkin pemimpin seperti ini akan dihormati dan disegani? Tidak penting apakah Anda disukai atau tidak, tetapi menjadi orang yang menjalankan apa yang dikatakan itu sangat penting.
  3. Dapat menjaga jarak antara teman dan atasan. Ini penting agar tidak ada anak buah yang menyalahgunakan kedekatannya dengan Anda selaku pemimpin. di kantor, aturan yang berlaku adalah hubungan kerja, hubungan lain-lain itu nanti bisa nomor dua atau tiga. Kesalahan menentukan jarak ini dapat mengakibatkan timbulkan kecemburuan di antara anggota team anda.
  4. Tidak punya anak buah emas. Semua anak buah adalah sama. Kalau bersalah mendapatkan punishment. Kalau berhasil, mendapatkan reward. Tentu saja dengan mempertimbangkan kapasitas dan level pekerjaan. Banyak kasus ketidakpuasan kerja terjadi karena perbedaan perlakuan yang diberikan pemimpin kepada anak buahnya. kalau si A bersalah tidak di apa – apakan, tetapi kalau yang lain bersalah bisa di beri teguran keras atau bahkan Surat Peringatan. Dalam bahasa formil; jurus keempat ini, pemimpin harus menjunjung tinggi azas keadilan. Karena jika Anda terus melakukan hal ini maka lama kelamaan makin banyak orang yang tahu dan.. anda akan kehilangan kepercayaan dari anak buah Anda. Lama kelamaan bisa jadi akan semakin banyak anak buah Anda yang performanya menurun. Bukan karena mereka tidak bisa, tetapi karena mereka tidak mau. “Ngapain juga kita bagus-bagus kerja, orang dia (si anak emas) aja kerja asal-asalan naik gajinya paling banyak tuh”. Hati-hati, ini bisa menjadi sandungan yang paling besar bagi karir Anda di masa depan!
  5. Mempunyai visi yang jelas. Mereka bisa melihat posisi perusahaan di tengah-tengah persaingan industri, bisa melihat pasar yang sedang tumbuh atau stagnan, dan bisa memprediksi posisi perusahaan di masa depan. Dan mereka juga bisa melihat di mana nanti mereka akan duduk di masa depan, berapa orang anak buahnya, siapa yang akan membantu mereka, dll. Jika Anda bisa melihat masa depan Anda di perusahaan, maka Anda akan lebih hati-hati dalam melakukan tiga proses berikut: recruiting, managing & training.
  6. Mereka tidak suka menunda masalah. Mereka mengambil keputusan. Semua permasalahan akan diselesaikan dengan tepat waktu tanpa bertele-tele. Pemimpin dengan kemampuan rata-rata senang sekali (tanpa sadar) menunda pengambilan keputusan dengan berbagai alasan. Bahkan, karena dibiarkan terlalu lama, akhirnya tidak ada keputusan yang diambil. Mengapa? karena berbagai hal, salah satunya karena takut (akibat) mengambil keputusan.
  7. Promote risk-taking. Ini cocok jika team Anda adalah sales force. Sering kali -selalu- mereka mengeluh tentang target, target dan target. Karena itu, ‘paksalah’ mereka untuk mencapai batas maksimum kemampuan mereka di dalam pekerjaan, tetapi dengan memberikan reward yang lebih. Karena jika kita lihat ke dalam, salah satu cost yang naik tiap tahun adalah membayar gaji mereka. Karena itu sebagai pemimpin yang baik kita dapat menggugah mereka untuk bekerja dengan lebih baik karena pada pada akhirnya, hasilnya akan mereka nikmati juga.
  8. Dapat menjaga orang-orang terbaik tetap tinggal. Yaitu dengan menjaga proses rekruitmen dan pelatihan yang berkesinambungan sesuai kebutuhan perusahaan. Banyak survei menunjukkan bahwa orang pindah kerja bukan karena pekerjaan mereka dan bukan pula karena klien mereka, tetapi karena atasan mereka. Ingatlah bahwa kalau Anda hebat di lihat oleh orang lain, itu karena team Anda hebat. Karena Anda mempunyai orang-orang terbaik yang tetap tinggal.
  9. Mempunyai paradigma bahwa perubahan itu menyehatkan. Perubahan membuat suasana kantor dinamis. Ada target – target baru, pemahaman baru dan membuat orang – orang tetap bergerak. Perubahan juga memotivasi orang untuk memaksa diri mereka melakukan / mencapai sesuatu yang mungkin dahulu belum pernah terpikirkan. Itulah sebabnya pemimpin yang handal tidak melakukan sesuatu yang rutin setiap hari. Mereka tidak makan siang di tempat yang sama, mereka berpindah-pindah. Mereka mengobrol dengan orang yang berbeda-beda. Mereka selalu melihat perubahan dengan antusias.
  10. Membantu anak buah untuk dapat melihat yang terbaik dari diri mereka. Jika orang dapat melihat yang terbaik dari diri mereka, maka ia akan dapat memberikan yang terbaik pula. Seringkali anak buah kita tidak tahu apa yang terbaik dari diri mereka dan hanya bekerja dan bekerja. Ada pula anak buah yang kurang percaya diri. Believe it or not, ini juga termasuk tugas Anda selaku manajer handal untuk meningkatkan tingkat kepercayaan mereka kepada diri sendiri.

Prioritas Pemimpin No. 1 adalah Karyawan


DR David Freemantle dalam bukunya yang menjadi best seller dunia, The Biz menyatakan bahwa sebaiknya kita selalu menempatkan karyawan kita di tempat pertama dalam mengalokasikan waktu kita.
“Hal kecil yang dapat Anda lakukan adalah mengalokasikan waktu pada karyawan Anda dan kemudian menunjukkan bahwa prioritas utama Anda dalam bekerja adalah mereka, karyawanAnda. Mungkin bagi Anda yang belum pernah / jarang melakukannya akan terasa janggal. Tetapi, beberapa menit obrolan ringan dengan karyawan menanyakan hal yang ‘penting’ menurut mereka akan dapat memotivasi mereka.”

Pemberian prioritas pada anggota tim ini menuntut Anda untuk mengorbankan apa pun bagi karyawan bila dibutuhkan. Lebih jauh lagi, dalam usaha Anda memotivasi Anggota tim, mereka perlu memahami nilai yang Anda berikan pada mereka dan seberapa penting Anda melihat kontribusi mereka. Mereka perlu mengetahui bahwa pemimpin teamnya tertarik pada pekerjaan mereka dan akan mendedikasikan waktu untuk mendukung mereka ketimbang melakukan hal lain, misalnya:

  • Satu menit untuk memperhatikan mobil baru Rino
  • Dua menit bercanda dengan Nana tentang sepak bola.
  • Tiga menit mendengarkan cerita Tiena tentang pernikahan saudaranya
  • Enam menit mendengarkan pertanggungjawaban Nani dalam rapat
  • Tujuh menit memberi selamat kepada Seno atas prestasi penjualannya
  • Sepuluh menit membantu Agung menyiapkan presentasi ke klien
  • Dua belas menit menindaklanjuti hasil rapat Hani dengan klien hari ini

(perhatikanlah bahwa semakin ke bawah waktu yang dipergunakan semakin besar karena semakin berorientasi tugas)

Ketika pemimpin team tidak memiliki waktu untuk bawahannya dan menganggap masalah ini sepele, para anggota team akan mulai merasa diacuhkan dan berasumsi bahwa pemimpin mereka tidak peduli dan tidak tertarik dengan pekerjaan atau masalah mereka. Memang, bukan berarti bahwa Anda harus mengabaikan yang lain, tetapi penting untuk merancang pada buku agenda Anda untuk meluangkan waktu bercakap-cakap dengan team Anda.

Maksud dari meluangkan waktu ini adalah untuk mempelajari apa yang terjadi pada kehidupan dan pekerjaan karyawan. Pemimpin team yang unggul akan antusias untuk mempelajari apa yang terjadi dalam rutinitas harian karyawan: hal-hal yang luar biasa, masalah, keberhasilan, dan berbagai cerita lain. Mereka ingin meningkatkan pemahaman mereka atas situasi kerja para karyawan dan kebutuhan spesifik mereka. Dengan cara ini pemimpin dapat memprioritaskan diri untuk membantu karyawan mengatasi masalah dalam pekerjaan mereka.

Tanyakan pada team Anda:”Apakah saya sudah menempatkan prioritas utama yang cukup untuk memberikan dukungan yang Anda butuhkan? Apa yang bisa saya bantu?”

KESALAHAN TERBESAR PARA PEMIMPIN


Menurut video yang di release Harvard Bussiness Publishing “The Biggest Mistake a Leader Can Make”, kesalahan terbesar yang dibuat oleh para pemimpin, menurut para pakar yang hadir dalam A Harvard Bussiness School Symposium: Imagining the Future of Leadership adalah sebagai berikut:

  1. Bill George (Proffessor, Harvard Bussiness School) : Dalam dua puluh tahun terakhir kesalahan terbesar yang dilakukan pada pemimpin -dan yang membuat saya kesal- adalah mereka lebih mengedepankan kepentingan pribadi dibanding organisasi. Mereka lebih mengejar uang, popularitas, kekuasaan, kesuksesan untuk dirinya sendiri dengan menjalankan organisasi. Seperti yang dikatakan Peter Drucker, kepemimpinan adalah soal tanggung jawab. Para pemimpin mempunyai tanggung jawab yang besar terhadap orang-orang disekitarnya, karyawan, pelanggan & shareholder. Dan esensi dari pemimpin yang baik adalah mereka yang bertanggung jawab.
  2. Evan Wittenberg (Head of Global Leadership Development, Google, Inc) : Betraying Trust, mereka mengkhianati kepercayaan yang diberikan kepada mereka. Karena trust adalah sesuatu yang sangat berharga dalam berhubungan antara pemimpin dan orang lain.
  3. Dr. Ellen Langer (Proffessor, Harvard University)Be certain. Segala sesuatunya berubah, banyak hal yang unpredictable. Ketika seorang pemimpin merasa bahwa tidak ada perubahan besar yang terjadi, segala sesuatunya ‘berjalan seperti biasa’, maka ketika paradigma itu ada, dapat dipastikan dia tidak akan memberikan perhatian lebih karena merasa sudah tahu. Karena itu leader harus mempunyai pengetahuan untuk dapat menarik pelajaran dari perubahan.
  4. Andrew Pettigrew (Professor, Said Bussiness School, University of Oxford) : Not live up the values. Mereka tidak menjalankan nilai-nilai yang mereka anut. Hal ini yang saya lihat semakin banyak bermunculan belakangan ini.
  5. Gianpiero Petriglieri (Affiliate Professor of Organizational Behaviour, INSEAD) : terlalu terobsesi dengan visi yang ingin dicapai. Pada sisi leadership yang lain, pemimpin yang mempunyai obsesi terhadap apa yang ingin dicapai adalah pemimpin yang baik. Tetapi, jika ‘terlalu’ terobsesi maka hal ini akan menyebabkan mereka menjadi single minded, sehingga kehilangan kemampuan untuk melihat dengan jernih. Bahasa sehari-harinya: “Pokoknya….”
  6. Carl Sloane (Professor Emeritus, Harvard Bussiness School) : sikap arogan. Hal itu dapat menyebabkan terjadinya jarak (social distance maupun power distance) sehingga dapat menyebabkan organisasi terdemotivasi. Hal itu juga akan menyebabkan kemungkinan untuk terjadinya kesalahan besar semakin besar.
  7. Jonathan Doochin (Leadership Institute at Harvard College) : acting to fast. Mengekseskusi sebelum benar-benar memahami kondisi yang dihadapi. Karena itu akan lebih baik jika sebelum mengambil keputusan mereka ‘mundur sejenak’ karena pengaruh keputusan yang diambil akan berjangka pendek dan jangka panjang.
  8. Scott Snook (Associate Professor Harvard Bussiness School) : all about the leader, segala sesuatunya tentang Sang Leader. Seharusnya ada sesuatu yang lebih besar yang menjadi concern. Yang kedua adalah not being authentic, pemimpin bersikap mendua / berbeda antara di depan seseorang dan di belakangnya. di depan orang tersebut menyanjung-nyanjungnya, tetapi di belakang orang tersebut malah menjatuhkannya.
  9. Daisy Wademan Dowling (Executive Director, Leadership Development at Morgan Stanley) : not be self reflective. Mereka tidak pernah belajar dari kesalahan dan keputusan yang pernah dibuatnya.

sumber: Video The Biggest Mistake a Leader Can Make, Harvard Bussiness Publishing, 2010