Membangun Organisasi yang Sehat


iconSetiap organisasi mendambakan pencapaiuan kinerja keuangan yang cemerlang dan tingkat penjualan yang tinggi. Tentu tidak ada yang salah dengan hal ini Wajar bila sebuah organisasi mengerahkan segala daya dan upaya untuk mencapainya. Terlebih bagi sebuah perusahaan, yang sejak awal didirikan memang berorientasi pada pencapaian laba yang maksimal. Namun pencapaian tersebut tidak akan bertahan lama tanpa didukung oleh kondisi organisasi yang sehat.

Para ilmuwan di National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH) mendefinisikan organisasi yang sehat sebagai organisasi yang budaya, iklim, dan praktek-praktek kerjanya mampu menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan dan keselamatan karyawan dan juga efektivitas organisasi. Dengan organisasi yang sehat, karyawan merasa dihargai. Terwujudnya organisasi yang sehat akan meningkatkan kepuasan kerja, menurunnya tingkat absensi dan keluar masuk karyawan; meningkatkan kinerja pekerjaan; dan juga meningkatkan kesehatan fisik, mental, spiritual, dan kesejahteraan karyawan. Pada gilirannya, hal ini akan berdampak positif bagi kinerja keuangan perusahaan dalam jangka panjang.

Organisasi yang sehat, menurut Verschoor, memiliki sejumlah karakteristik. Yang pertama adalah keterbukaan dan kerendahatian anggotanya, mulai dari tingkat atas hingga bawah. Kesombongan hanya akan mematikan pembelajaran dan pertumbuhan. Kekuatan berasal dari kemampuan dan kesediaan untuk belajar dari orang lain.

Karakteristik berikutnya adalah tumbuh kembangnya iklim akuntabilitas dan pertanggungjawaban pribadi. Penyangkalan, saling menyalahkan dan mencari kambing hitam, dan mencari-cari alasan jelas memperburuk hubungan dan memanaskan konflik.

Ciri lain organisasi yang sehat adalah keberanian mengambil risiko terkalkulasi. Keberanian mengambil risiko memang penting demi mengenali dan memanfaatkan peluang pertumbuhan dan perbaikan. Namun pengambilan risiko secara membabi buta, berlebihan, dan tak terkalkuasi dengan matang jelas menjadi ancaman bagi organisasi. Alih-alih memanfaatkan peluang, organisasi bisa-bisa kehilangan banyak sumber dayanya, seperti keuangan dan karyawan. Oleh karenanya manajemen risiko yang efektif menjadi penting.

Melakukan sesuatu dengan benar menjadi ciri khas yang juga melekat pada organisasi yang sehat. Organisasi tentu tidak mau hanya sekedar mencapai prestasi yang biasa-biasa saja, melainkan ingin unggul meski untuk mencapainya memerlukan kerja keras dan cerdas. Organisasi yang sehat juga mampu menahan diri dari godaan-godaan untuk menempuh jalan pintas, yang kerap kali muncul.

Di samping melakukan sesuatu dengan benar, organisasi yang sehat juga mampu bersikap toleran hingga batas-batas tertentu terhadap kesalahan yang dibuat anggota-anggotanya. Mereka juga mau belajar dari kesalahan dan kekurangan. Gampang menghukum kesalahan-kesalahan yang masih dapat ditoleransi hanya akan mematikan kreativitas dan mematahkan semangat untuk berbuat yang terbaik.

Bagi organisasi yang sehat, integritas adalah segala-galanya. Integritas tidak boleh dikorbankan atas nama apapun dan dengan dalih apapun. Di samping integritas, konsistensi juga tak kalah penting. Ketidakjujuran dan inkonsistesi hanya akan merusak kepercayaan. Organisasi dan hubungan yang dijalin oleh orang-orang di dalamnya hanya akan berkembang positif bila didasarkan atas kejelasan, transparansi, kejujuran, dan keandalan.

Karakteristik lain organisasi yang sehat adalah senantiasa berusaha mewujudkan kolaborasi, integrasi, dan pemikiran yang menyeluruh. Pemikiran yang sempit dan terkotak-kotak akan mematikan organisasi. Anggota organisasi secara aktif bersama-sama merancang ide-ide dan praktek-praktek terbaik. Organisasi juga berupaya mengintegrasikan orang-orang terbaik ke dalam tim yang kolaboratif. Kesemuanya mampu melipatgandakan kekuatan organisasi.

Organisasi yang sehat adalah organisasi yang mampu bertahan meski menghadapi masa-masa sulit. Organisasi tidak terpengaruh dan juga tidak terintimidasi. Merka sadar bahwa perjalanan yang ditempuh tidak selalu mulus melainkan akan banyak menemui batu sandungan.

Di samping karakteristik-karakteristik di atas, karakteristik lain yang melekat pada organisasi yang sehat adalah hadirnya visi, misi, dan nilai-nilai yang bermakna sebagai panduan. Organisasi yang sehat juga mennentukan secara jelas tanggung jawab dan perasn bagi karyawan, memiliki proses dan prosedur yang efektif, dan juga memiliki sejumlah ekspektasi perilaku yang mendukung budaya kerja yang konstruktif. Organisasi yang sehat juga menumbuhkembangkan komunikasi terbuka.

Organisasi yang sehat memperlakukan karyawan, pelanggan, dan pemasuknya dengan penuh hormat. Mereka juga memperhatikan kebutuhan pribadi dan keluarga karyawan, mendorong pengembangan pribadi dan profesional karyawan, mengharapkan perbaikan berkelanjutan, dan selalu mencari cara-cara kreatif untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.

Guna menciptakan organisasi yang sehat, menurut Helliwell, pertama-tama organisasi harus mengakui kontribusi dari semua anggotanya tanpa pandang bulu. Organisasi juga harus berani mendorong tumbuhkembangnya keberagaman. Keberagaman akan meningkatkan fleksibilitas dan memperkaya perspektif. Belajar dengan orang-orang dengan latar belakang yang beragam akan meningkatkan peluang bagi pertumbuhan.

Jangan lupa merayakan keberhasilan yang diraih di masa lalu guna menemukan pelajaran-pelajaran positif yang terkandung di dalamnya. Organisasi juga harus membantu individu-individu memanfaatkan bakat dan kekuatannya demi kemajuan diri dan organisasi Tak kalah penting, kenalilah area-area dimana masing-masing individu dapat membuat perbedaan. Di samping itu, organisasi juga harus menentukan kriteria-kriteria baru berkaitan dengan kesuksesan.

Keterlibatan aktif karyawan ternyata penting demi terwujudnya organisasi yang sehat. Hasil sebuah penelitian menunjukkan bahwa karyawan bersedia bekerja lebih keras bila mereka dilibatkan dalam menyelesaikan masalah-masalah mereka sendiri ketimbang hanya mengikuti instruksi dari atas.

Kepedulian kepada etika menjadi faktor yang tidak boleh dikompromikan. Organisasi harus bersikap tegas kepada anggotanya yang melanggar etika guna membangun kepercayaan dan komitmen. Organisasi yang mengabaikan etika akan ditinggalkan oleh pelanggan, karyawan, dan pemangku kepentingan lainnya.

Faktor kepemimpinan memainkan peran sangat penting bagi terciptanya organisasi yang sehat. Organisasi yang sehat memiliki pemimpin yang bisa menjadi sandaran bagi karyawannya sehingga mereka merasa aman. Pemimpin yang demikian memiliki keterampilan komunikasi yang tinggi, dapat dipercaya, dan tulus.

Kinerja organisasi yang positif hanya akan bertahan secara berkelanjutan bila didukung oleh organisasi yang sehat.

 

[Majalah Eksekutif]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s